| DISFUNGSI EREKSI ( DE ), PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA |
|
|
|
|
______________________________________________________ KLINIK ANDROLOGI RUMAH SAKIT PELNI Gedung Poliklinik Lantai.II./Km.221 Jl. AIPDA.KS.Tubun 92 - 94 Jakarta 11410 Telp. ( 021 ) 5306901 ext. 1349 ____________ DEFINISI Disfungsi ereksi, atau istilah awamnya dikenal dengan nama lemah syahwat ( impoten ), suatu kondisi berupa ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi pada penis secara adekwat dalam kurun waktu 6 bulan terakhir untuk bisa dapat melakukan hubungan seksual secara baik / sempurna, dan kondisi ini akan berdampak terhadap ketidak harmonisan pada pasangannya.
INCIDENT / ANGKA KEJADIAN DE, merupakan salah satu gangguan fungsi seksual pada pria usia diatas 40 tahun. Hampir 39% pada pria usia 40 - 70 tahun menderita dengan tingkat keparahan ( gradasi ) sedang dan berat, atau 52 % dengan tingkat keparahan ringan sampai berat. Dari study yang dilakukan di Boston ( AS ) didapatkan kasus baru DE sebanyak 24 orang per 1000 pria. Meningkatnya kasus dan bertambah beratnya kondisi DE seiring dengan bertambahnya usia, pola hidup yang tidak teratur serta adanya penyakit sistemik seperti : sindrom metabolik ( diabetes melitus disertai penyakit hipertensi, hiperkolesterol dan obese / kegemukan ). Saat ini kecenderungan angka kejadian DE terjadi pada usia relatif lebih muda, akibat dari stress yang berlebihan dan berkesinambungan yang didapat baik ditempat kerja maupun di lingkungan rumah tangga, pola hidup yang tidak teratur serta kurangnya aktivitas olah raga akibat dari kesibukan kerja yang dapat menimbulkan obese. Pria obese mempunyai resiko terjadinya DE tiga kali dibandingkan non obese. Dengan ditemukannya obat-obatan terbaru secara medis dan ilmiah untuk memperbaiki fungsi ereksi serta telah berkembangnya bidang spesialisasi Andrologi, maka DE tidak seharusnya menjadi momok / sesuatu yang menakutkan lagi pada pria untuk dapat memberikan kebutuhan nafkah aktivitas seksual kepada pasangannya. PENYEBAB Secara fisiologis, mekanisme fungsi ereksi membutuhkan interaksi yang sangat kompleks yang meliputi : sistim organik/ fisik yang melibatkan sistem pembuluh darah ( vascular ), sistim saraf ( neurological ), hormonal serta sistim psikologis ( depresi, kecemasan, tidak ada komunikasi yang baik antara pasangannya ), tersedianya sistem pemicu saraf / neurotransmiter (NO / nitric oxide). Hampir 2/3 dari kasus DE penyebabnya karena kelainan fisik seperti : Diabetes melitus, hyperlipidemia ( kolesterol yang tingi ), gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi liver, hipertensi, strooke, kelainan pada jantung (gagal jantung, penyakit jantung koroner), proses penuaan, akibat kekacauan hormonal ( resistensi insulin, late onset hypogonadism ), karena adanya trauma didaerah panggul ( saluran sistem reproduksi pria ) seperti paska operasi prostat, mengkonsumsi alkohol, merokok serta mengkonsumsi obat - obat penenang terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Dari pengalaman klinis, 20 % kasus DE oleh karena diabetes melitus tidak memberikan hasil secara maksimal dengan pengobatan yang ada. Kecenderungannya pasien memerlukan peningkatan dosis / memerlukan kombinasi beberapa obat erektil. Hal ini diakibatkan karena penanganannya tidak dilakukan secara cermat dan akurat.Beberapa faktor kegagalan penanganan DE akibat komplikasi Diabetes berupa : tidak terkontrolnya kadar gula darah yang mengakibatkan tingginya radikal bebas dalam tubuh yang dapat merusak sistem arsitektur fungsi ereksi, kebocoran sistem aliran darah vena pada penis ( venous leakage ), terjadinya kekacauan hormonal (hipogonadism), adanya resistensi insulin serta adanya penyakit sistemik lain yang menyertainya. SOLUSINYA Strategi kunci keberhasilan dalam menangani kasus DE, tergantung dari usaha untuk mencari causa / penyebab. Semuanya tergantung dari : 1 . Apakah penyebabnya psikis atau organik. 2 . Tingkat keparahan DE. 3 . Lama menderita DE. 4 . Penyakit sistemik yang menyertainya seperti ; diabetes, hipertensi, hiperkolesterolemia, gangguan asam urat, penyakit jantung koroner, liver, gagal ginjal. 5 . Ada tidaknya kekacauan hormonal akibat dari resistensi insulin pada diabetes melitus dan late onset hypogonadism pada usia lanjut serta efek dari beberapa obat - obatan yang dipakai dalam waktu yang lama. 6 . Ada tidaknya pemakaian obat dalam jangka panjang yang dapat memperburuk DE.. 7 . Kelainan genetik. 8 . Ada tidaknya indikasi maupun kontra indikasi pemakaian obat erektil Tidak semua kasus DE mendapat terapi yang sama, dan tidak akan memberikan hasil yang maksimal tanpa mencari causa ( penyebab ) yang tepat dari DE tersebut. Setiap kasus DE mempunyai penyebab yang berbeda, sudah tentu terapinya berbeda tiap kasus. Keberhasilan terapi harus mempunyai nilai : efektifitas, safety ( tidak memberikan efek samping ) dan praktis pemakaiannya. " Klinik Andrologi Rumah Sakit PELNI memberikan S O L U S I penanganan disfungsi ereksi - disfungsi seksual secara medis yang ditangani oleh dokter spesialis di bidangnya ( Androlog - Seksolog ) yang sudah berpengalaman "
|
| Telp: |
021-5484809, 5306901, 5439475-83 |
| Fax: |
021-5483145- 5306907 |
| Email: |
info@rspelni.co.id humas@rspelni.co.id |
Secara berkala, Rumah Sakit PELNI mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Silahkan peroleh informasi mengenai agenda kegiatan disini.
Untuk memudahkan dan menghemat waktu membuat janji dengan dokter Anda, pastikan informasi jadwal praktek dokter Anda sebelum berangkat.
Rumah Sakit PELNI:
(021) 5306901
(021) 5480608
Pendaftaran Poliklinik:
Lantai I : (021) 5485793
Lantai II : (021) 5306908
Pendaftaran Rawat Inap:
(021) 5350085
Humas:
(021) 5350086
Verifikasi:
(021) 53671710
Pemasaran:
(021) 5485870
Instalasi Gawat Darurat (IGD):
(021) 5350084
Ambulance:
(021) 5350084
(021) 5306901-05 ext. 1220
Pengaduan Pelayanan:
(021) 5350086 (Humas)
(021) 5485870 (Pemasaran)
Pendaftaran Pasien:
(021) 5350085 (Rawat Inap)
(021) 5485793, 5306908 (Rawat Jalan)