Ayok Kenalan Dengan Si Bungsu Bersama prof DR drg setyo Harnowo, SpBM

Gigi bungsu adalah gigi geraham terakhir yang terletak paling belakang. Gigi geraham bungsu umumnya tumbuh ketika seseorang menginjak usia remaja atau dewasa, yaitu usia di atas 17 tahun.


Sebagai si bungsu, tidak sedikit gigi geraham yang keluar paling akhir ini tidak mendapat ruang yang cukup untuk tumbuh dan keluar dari gusi. Kondisi ini menyebabkan gigi bungsu tidak tumbuh atau keluar dengan sempurna (impaksi). Akibatnya, gigi tersebut hanya keluar sebagiannya saja atau bahkan tidak keluar sama sekali.

Gigi bungsu yang mengalami impaksi akan meningkatkan risiko terjadinya sakit gigi dan sakit gusi.  “Selain itu ternyata keberadaan gigi bungsu yang tidak tumbuh dengan sempurna ini dapat menimbulkan masalah gigi lainnya pada kemudian hari yaitu karies gigi dikarenakan gigi molar ketiga tumbuh miring ke arah gigi molar kedua sehingga makanan sering terselip, tempat berkumpulnya debris dan bakteri sehingga akan lebih mudah terkena karies akibat sulitnya pembersihan; infeksi gusi disebabkan gigi bungsu molar ketiga tumbuh sebagian sehingga menyebabkan gusi bengkak,  rasa sakit, sakit kepala, sakit pada telinga atau leher, bau mulut dan bila infeksi yang cukup berat dapat menyebabkan kekakuan pada rahang sehingga sulit buka mulut; rasa sakit dan kerusakan  gigi tetangganya; gigi depan dapat berjejal pada saat gigi molar ketiga tumbuh dan gigi-gigi lain akan terdorong; dan terbentuknya kista dan menyebabkan kerusakan lebih luas pada rahang dan gigi tetangganya”.

Infeksi kronis pada gigi dapat memicu bakteri dan mikroba penginfeksi menyebar ke bagian tubuh yang lain. Pada tubuh yang mempunyai daya tahan tubuh lemah, bakteri ini dapat dengan mudah masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke mana-mana.

Ketika kita sakit gigi, seringkali bagian tubuh yang lain akan ikut terasa sakit. Tiba-tiba sering pusing, otot-otot wajah terasa kaku, susah membuka mulut, atau mungkin terasa pegal dan bengkak pada leher hingga bahu. Dalam dunia kedokteran, peristiwa ini dikenal dengan istilah “referred pain” atau “nyeri alih”, nyeri yang berasal dari salah satu daerah di tubuh tapi dirasakan terletak di daerah lain.

Impaksi geraham bungsu tidak bisa dihindari, tetapi rasa sakitnya dapat dicegah dengan pemeriksaan gigi rutin setiap 6 bulan sekali. Pemeriksaan yang biasanya dilakukan adalah pemeriksaan radiografik panoramik untuk melihat posisi gigi molar. Namun ada juga beberapa orang beruntung yang tidak merasakan sensasi impaksi, bisa jadi karena pertumbuhan geraham bungsu yang normal atau malah karena tidak memiliki benih geraham bungsu sama sekali. Gigi bungsu yang mengalami impaksi dapat ditangani dengan cara dicabut oleh dokter gigi. Wah ternyata banyak sekali masalah yang mungkin muncul karena si bungsu ini ya, oleh karena itu penting sekali kita menjaga kesehatan gigi dan mulut deng rajin kontrol ke dokter gigi ya. Untuk Pendaftaran konsultasi dengan bersama dokter gigi RS PELNI dapat menghubungi Klinik heritage RS PELNI klik nomor berikut –> 085711746700

Social Share